Bahkan di tengah malam, dia tetap seperti Alif: berdiri sendiri, tak mengikuti, tak diikuti. Di sebuah kursi, di sebuah taman, dihempaskannya tubuhnya. Tubuh kecilnya hendak rebah, melepas penat. Diapun lalu rebah. Dipeluknya ukulele usang yang selalu dibawanya, teman sejati.
Dipandanginya langit malam.
Mendung.
Malam sangat tidak jernih malam itu. Awan hitam berarak di langit malam yang gelap. Jangankan bintang, bulanpun tak tampak. Malam seperti ini bukanlah malam yang disukai si Alif kecil. Dia suka bintang-bintang. Dia suka rembulan. Dia suka cahaya di tengah kegelapan.
Yang dinantinya, cahaya-cahaya itu, tak ada. Dia pun bangkit. Pergi dia ke suatu sudut di taman itu, ke salah satu tempat terterang di sana: bawah lampu taman. Dikeluarkannya sebuah bungkusan dari kantongnya. Gemerincing logam terdengar saat isi bungkusan itu ditumpahkan ke tanah. Hati-hati, satu persatu dihitungnya uang yang berhasil didapatnya hari itu. Koin dan lembaran. Cukup banyak. Selengkung senyum terlukis di bibirnya setelah semua uang itu dihitung. Kalimat hamdalah lalu diucapkannya, penuh syukur.
Hujan mulai turun.
Si Alif bergegas pulang.
Di rumah, dia masih tetap menjadi alif: sendiri, tak mengikuti, tak diikuti. Rumahnya gelap Tak ada cahaya. Hujan di luar menambah gelap suasana. Listrik? Alif sudah memutuskan untuk lebih memilih mengisi perutnya dibanding harus berlangganan listrik hanya demi cahaya dari alat elektronis yang kita sebut lampu. Karena itu, bagi Alif, rumah adalah gelap.
Hampir dua belas tahun dari hampir dua belas tahun usianya Alif selalu menghabiskan malam dengan kegelapan. Sendirian. Karena itulah, Alif suka melihat bintang-bintang. Dia merasa sependeritaan dengan bintang: tiap malam selalu terkurung kegelapan. Alifpun kemudian hendak menjadi bintang. Dia ingin menjadi terang di kegelapan.
Maka dia bangun. Meraba-raba dicarinya sesuatu: lilin. Dinyalakannya. Ruangan menjadi oranye. Lalu diambilnya sebuah buku, di sampulnya tertulis: IPA 4.
Pukul 23.13. Di luar hujan. Dingin.
Dalam temaram, Alif kecil meretas jalan menjadi terang di kegelapan.
"Belakangan ini dua kalimat awal lirik lagunya Chrisye yang Untukku terngiang-ngiang di otak gue." ucap seorang temen tiba-tiba. Ya, tiba-tiba. Wong tadinya kami lagi ngomongin hasil leg ke-2 perempat final Copa del Rey Barca-Madrid, eh nih bocah tiba-tiba ngomong gitu. "Kenapa lo, jatuh cinta?" tanya si gondrong yang pada saat itu rambutnya dikuncir dua. "Ini lebih dari itu, men." "Alah, playboy macem lo jatuh cinta kayak monyet lagi makan pisang, men!" Tawa pecah. "Ini nggak kayak gitu, bro!" "Secakep apa emang?" "Siapa bilang cakep?" Ucapannya, atau lebih tepatnya lagi, pertanyaannya, membuat kami hening sesaat. "Skripsi! Ke mana langkah gue pergi, selalu ada ada bayang dia!" "Itu satu kalimat, dodol! si mahasiswa bahasa nyahut. Tawapun pecah lagi.
Malam ini malam yang jernih. Tidak ada awan sama sekali. Bintang-bintang dengan anggunnya berpijar memperlihatkan kemilau cahayanya. Bulan yang perkasa terlihat lebih besar dan lebih terang, menerangi malam dengan cahaya yang dipinjamnya. Malam ini purnama. Malam kesukaanmu.
Ditemani angin malam, aku melangkah menyusuri jalan menuju tempat itu. Tempat biasa kamu menunggu, tersenyum menyambutku, lalu aku langsung menghampirimu dengan debur di dada yang luar biasa, dan kita menghabiskan sebagian malam berdua hingga kantuk memaksamu pulang.
Aku sudah di sana, tapi kamu tak ada di kursi itu. Lalu aku duduk di kursimu, memandangi pepohonan malam dan bulan purnama di atasnya. Sesuatu yang selalu kamu anggap indah. Dan akupun bergumam seperti biasa. “Apa indahnya cahaya temaram begitu?” Dan terbayang senyumanmu, yang selalu kamu berikan untuk menjawab pertanyaanku. Ya, jawaban yang ambigu. Tidak, bukan ambigu, samar. Bahkan itu bukan jawaban, kan?
Lalu kuingat lagi tentang kamu. Tentang harapan masa depan yang selalu kamu ucapkan sambil meletakkan kepalamu di bahuku. Dan kuingat kamu pasti memarahiku saat kamu bertanya apa harapan masa depanku, yang selalu kujawab belum kepikiran. Kalimatmu kuhapal betul. “Jangan begitu. Kita hidup dari harapan. Dan kita hidup demi harapan. Harapan adalah hidup dan hidup adalah harapan.” Ya, kamu memang pandai berkata-kata, hanya mengulang kata hidup dan harapan bisa membuat lebih dari dua kalimat. Aku tidak terlalu pandai berkata-kata. Karenanya aku selalu menjawab singkat: “Iya” lalu kau cemberut tak puas.
Malam semakin larut. Kantukku tak bisa dilawan. Lebih baik aku pulang daripada membiarkan tubuh menjadi santapan nyamuk yang selalu kamu bela atas nama perikemanusiaan, -mungkin lebih tepat perikenyamukan. “Biarkan saja, toh itu bukan aides aigepthy atau anopheles. Mereka toh hanya nyamuk biasa, yang hanya membuat kita gatal. Biarkan saja. Jangan kamubunuh. Atau mau kamu kupanggil pembunuh?” Ah, berlebihan sekali! Toh mereka cuma nyamuk kecil. “Mereka juga makhluk bernyawa. Kamu tahu itu kan?” kamu berbicara. Aku mendengar. “Aku selalu membayangkan semua binatang, termasuk nyamuk, seperti manusia. Nyamuk-nyamuk itu keluar sarangnya mencari makan, seperti manusia pergi bekerja. Di rumah, keluarganya menunggu dengan sabar. Aku selalu membayangkan seperti apa perasaan keluarganya menunggu nyamuk-nyamuk yang tak kembali itu.” Maaf, aku hendak tertawa mendengar celotehanmu itu. Tapi tidak. Aku melihat raut wajahmu berubah, tak secerah bintang yang selalu kamu kagumi. Butir air mata terlihat di sudut matamu. Menangis? Aku kehabisan kata-kata. Kamu menangis membayangkan menjadi nyamuk atau kenapa? Tak berani aku bertanya.
Biasanya kita menutup malam dengan nyanyian kita. Kamu ingat? Nyanyian kita, lagu yang kuciptakan spesial untuk kita. Dan kamu menyukainya kan? Aku hendak menyanyiaknnya, tapi tak bisa. Tak ada kamu. Tak ada melodi dan kata-kata.
Aku hendak pulang saat suara yang sangat kukenal dengan lembut menyebut namaku. Ya, suara kamu! Aku berpaling. Kamu seterang bintang duduk manis di kursi kesenanganmu itu. Seperti biasanya, kamu tersenyum. Manis! Aku terbuai. Kamu seperti medan magnet besar dan aku besi. Aku menghampirimu tanpa melangkahkan kaki.
Malam ini, kamu lebih harum dari biasanya. Kamu lebih manis dari biasanya. Aku hanya diam duduk di sampingmu. Kaku! Seperti pertama bertemu dulu. Tak tahu harus berbuat apa. Tak tahu harus berkata apa. Kehadiranmu malam ini seperti mengunci seluruh sendi, otot, dan sarafku. Terlebih lagi kamu tak juga memulai pembicaraan, tidak seperti dulu. Kamu hanya tersenyum menatapku, yang membuat jantungku makin cepat berpacu. Udara dingin, angin berhembus semilir. Tapi keringatku mulai membanjir. Benar-benar seperti pertemuan pertama kita.
Lalu, tahukan kamu, aku hampir pingsan saat tiba-tiba kamu menyandarkan kepalamu di bahuku. Dengan lembut akhirnya kamu bersuara: “Terima kasih. Jika kamu rindu aku, datanglah ke sini. Ingatlah saat kita bersama dulu, maka aku akan datang menemanimu. Mungkin nanti kamu tidak bisa lagi melihatku, seperti tadi. Tapi yakinlah aku akan datang jika kamu mengingat aku, mengenang kisah-kisah dulu. Melihat kamu datang ke sini membuatku percaya, mungkin kita tak bisa lagi bersama secara nyata, tapi kita selamanya bersama dalam kenangan. Aku abadi dalam kenanganmu. Maka kenanglah aku.” Kamu tersenyum. Manis sekali. Tanpa kendali air mataku mengalir, entah sedih atau bahagia. Aku tak dapa mengenali apa yang kurasakan saat itu. Lalu kamu mengusap pipiku, menghapus air mata itu.
“Terima kasih. Datanglah lagi saat kamu rindu.” Lalu, sambil menanyikan lagu kita itu, kamu melayang, menyatu dengan cahaya bulan, dan kemudian menghilang.