Translate
Kamis, 17 Mei 2012
KAU SELALU SAJA TERSENYUM DARI FOTO DALAM PIGURA YANG KUPASANG DI DINDING KAMAR
ENDLESSLY
Seperti Alif
Malam sangat tidak jernih malam itu. Awan hitam berarak di langit malam yang gelap. Jangankan bintang, bulanpun tak tampak. Malam seperti ini bukanlah malam yang disukai si Alif kecil. Dia suka bintang-bintang. Dia suka rembulan. Dia suka cahaya di tengah kegelapan.
Di rumah, dia masih tetap menjadi alif: sendiri, tak mengikuti, tak diikuti. Rumahnya gelap Tak ada cahaya. Hujan di luar menambah gelap suasana. Listrik? Alif sudah memutuskan untuk lebih memilih mengisi perutnya dibanding harus berlangganan listrik hanya demi cahaya dari alat elektronis yang kita sebut lampu. Karena itu, bagi Alif, rumah adalah gelap.
Sabtu, 03 Maret 2012
PADA TULANG RUSUK YANG HILANG
Tuhan anugerahkan setitik surga pada tulang rusuk yang hilang,
lalu menenggelamkannya di padang gersang.
Yang tenggelam hanyut, lalu tak tampak,
Raga yang mencari menanti jejak.
Tuhan menggoreskan cahaya pada tulang rusuk yang hilang
Dan tak memamdamkannya, tetap bersinar dan terang
Pasanglah mata, tangkap sinarnya,
Dia terlihat di mana saja mata melihatnya.
PADA RINDU YANG TAK BERBALAS, KUSEMATKAN NAMAMU MENJADI PUISI
Pada rindu yang tak berbalas,
Kuhabiskan malam dengan menuliskan puisi
yang mungkin tak akan pernah kaubaca: meskipun kuberi judul sama dengan namamu.
Pertemuan jari dan keyboard menjadi hampa,
Kata yang kuketikkan jadi tak berirama: seperti lagu tanpa suara
Lalu kau menari, indah gemulai: di kelopak mataku!
Aku tak pungkiri, ya, aku tak pungkiri
Tak bisa aku pungkiri
Bahwa di setiap detak jantung menyebarkan oksigen di tubuhku,
Setiap itu menjauh menguap bayang kehangatan yang setiap itu juga kuharap.
Mawar yang selalu kubeli selalu saja layu sebelum kaunikmati harumnya
Lagu yang berjuta kucipta selalu saja kehilangan nada sebelum kaupuji betapa merdunya
Ah, mengharap kecantikan surgawi selalu saja membuatku lebih lemah dari makhluk terlemah
Dan selalu, selalu
Puisi berjudul sama dengan namamu selalu hanya aku yang tahu
Sabtu, 11 Februari 2012
LAGU
Adakah kau melihatku di sini,?
Mampukah matamu menangkap wujudku?
Dalam malam tanpa cahaya seperti ini.
Di sini kunyanyikan lagu itu
Nada yang kucipta, dan kauisi liriknya
Penuh cinta sepenuh-penuhnya..
Di sini aku menyepi, bernyanyi
Adakah kaumampu merasakan kehadiranku?
Akankah kaudengar lantunan kidungku?
Aku bernyanyi tanpamu
Aku akan bernanyi tanpamu
Bintang memudar, bulan memucat.
Adakah kaumampu menangkap cahayaku?,
Bilakah kau ke sini, menyanyi bersama?
Lagu ini kehilangan arti..
Rabu, 01 Februari 2012
Secuil Percakapan
"Kenapa lo, jatuh cinta?" tanya si gondrong yang pada saat itu rambutnya dikuncir dua.
"Ini lebih dari itu, men."
"Alah, playboy macem lo jatuh cinta kayak monyet lagi makan pisang, men!"
Tawa pecah.
"Ini nggak kayak gitu, bro!"
"Secakep apa emang?"
"Siapa bilang cakep?"
Ucapannya, atau lebih tepatnya lagi, pertanyaannya, membuat kami hening sesaat.
"Skripsi! Ke mana langkah gue pergi, selalu ada ada bayang dia!"
"Itu satu kalimat, dodol! si mahasiswa bahasa nyahut.
Tawapun pecah lagi.