Translate

Rabu, 07 Agustus 2013

KARENA AKU: XX


SABTU pagi, aku dibangunkan oleh nadadering ponselku.
          Siapa pula yang menelpon sepagi ini?
          Mataku masih sepat. Kuraba-raba tempat tidurku mencari benda yang masih berbunyi itu.           Biasanya kuletakkan tak jauh dari posisi tidurku.
          Ketemu!
          Kulihat layarnya. Dalam buram penglihatan—efek baru bangun dan melihat tanpa kacamata adalah paduan sempurna pembuat dunia terlihat buram—kulihat nama Putri tertulis di sana.
          Langsung kutekan tombol menerima panggilan.
          “Halo, assalamalaikum,” sapaku.
          Tak ada suara.
          “Halo? Moshi-moshi,” ulangku. Sapaan dalam bahasa Jepang mungkin ada jawaban.
          Tetap tak ada suara.
          “Put? Jangan iseng, deh,” kataku lemah.  
          Aku tak bisa marah.
          "Put?"
          Akhirnya terdengar suaranya.
          Sebuah isakan.
          “Put?” tanyaku lagi.
          Isakannya perlahan semakin keras. Semakin keras.
          Dia tidak bercanda.
          “Kamu kenapa, bu guru?”
          “Bisa datang ke sini, gak?” pintanya.
          Tak mungkin kutolak.

TERNYATA ini tidak sepagi yang kuduga. Kupikir aku bangun seperti biasa.
          Jam sudah menunjukkan pukul duabelas kurang lima menit.
          Mandi kilat, mengambil baju sekenanya, menyalakan si itali gendut, kemudian langsung tancap gas.
          Putri menunggu di suatu tempat.

DI SEBUAH pusat perbelanjaan modern, di meja suatu restoran franchise ternama, Putri menungguku.
          Dia tampak muram mengaduk-aduk eskrim tak jelas seperti itu.
          Kududuk di hadapannya.
          “Kenapa, Put?”
          “Temenin aku, yuk!” katanya lemah. Matanya masih tertuju pada eskrim adukannya.
          “Ke mana?” tanyaku.
          “Nanti aku kasih tahu,” jawabnya.
          Baiklah.

ARAHAN Puti membawa kami menuju sebuah taman. Dua pasang ayunan, sebuah seluncuran, dan beberapa tempat bermain yang aku tak tahu namanya terpasang di taman ini. Pohon-pohon tampak kukuh dengan daun yang rimbun, dipersempurna dengan semak yang terpangkas rapi serta bebungaan di beberapa sudut taman. Pasti menyenangkan sore hari bermain di sini.
          Sayangnya, aku ke sini bersama perempuan cantik yang matanya masih sembab.
          Kami duduk di bangku taman, di bawah pohon yang paling rimbun.
          “Kenapa sih, Put?” tanyaku membuka pembicaraan.
          Dia menjawab dengan tatapan kosong. Menatap entah apa.
          “Rangga,” katanya terputus. Terlihat ada kata yang tertinggal di tenggorokannya.
          Sebutir airmata menyembul di ujung matanya, kemudian mengalir.
          “Kenapa si Rangga?” tanyaku lagi.
          “Dia,” katanya tanggung lagi, kemudian terisak.
          “Yaudah,  kalau gak mau cerita gak apa-apa,” kataku tersenyum.
          Airmatanya mengalir lagi. Kuseka dengan tanganku.
          “Main itu aja yuk, Put!” ucapku sambil menunjuk ayunan. Kemudian aku bangun berjalan setengah berlari menuju benda itu, dan duduk di sana.
          “Ayo, Put!” kataku.
          Samar, kulihat Putri mulai tersenyum.
          Kutarik diriku ke belakang, kemudian berayun. Ayunan pertama, kedua, ketiga, kemudian berhenti. Kutarik lagi makin ke belakang, makin jauh. Ayunanku semakin tinggi. Semakin cepat. Aku berteriak kegirangan. Entah kapan terakhir kali aku main ayunan seperti ini.
          Kulirik Putri. Kulihat dia tersenyum lagi.
          Kutarik lagi diriku makin ke belakang, saking semangatnya. Ayunanku seemakin cepat, semakin tinggi.
          Saking tingginya, di ayunan kedua, ayunan itu tanpa penghuni.
          Putri tertawa melihatku terjerembab.

“RANGGA ngeboongin aku,” katanya sambil menempelkan plester di siku tangan kananku.
          “Maksudnya? Ngeboongin gimana?” tanyaku.
          “Tadi pagi dia datang ke rumah,” Putri mulai bercerita.
          Kusimak baik-baik.
          “Tadi dia dateng ke rumah. Yah, kami ngobrol-ngobrol lah,” katanya.
          “Lalu?” tanyaku.
          Putri tampak lebih tenang menceritakan tentang ini setelah dia puas menertawakanku. Tak apa lah. Perihnya nyungsepku setidaknya ada hasilnya.
          “Pas dia ke kamar mandi, handphonenya bunyi. Entah ada angin apa, tumben aku mau lihat siapa yang ngehubungin dia. Ternyata ada SMS. Handphone dia kan kalo ada SMS pesannya jalan-jalan gitu tuh di atas. Nah, kebaca dong sama aku. Ternyata itu ngingetin untuk ketemuan siang ini. Bahasanya mesra banget. Aku lihat siapa yang ngirim, ternyata nama perempuan.”
          “Adiknya mungkin,” ucapku mencoba menghibur.
          “Rangga anak tunggal,” katanya.
          “Cuma karena itu kamu sesedih itu?” tanyaku.
          “Enggak, lah. Aku gak sebodoh itu sedih cuma karena hal yang belum jelas,” katanya lagi.
          “Lalu?”
          “Yah, aku mencoba berpikir positif aja. Mungkin itu sepupunya, atau saudara lainnya. ‘Berpikir positif! Berpikir positif!’ aku terus mengulang-ulang kalimat itu tadi pagi. Tapi semakin aku coba berpikir kayak gitu justru aku semakin penasaran.”
          “Rangga tahu kamu ngebaca SMS-nya?”
          “Enggak. Aku cuma bilang tadi handphone-nya bunyi. Terus dia langsung ngecek. Dia sama sekali gak tahu kalo aku tahu apa isi SMS yang dibacanya,” jelas Putri.
          “Reaksinya waktu baca SMS itu?”
          “Biasa aja, sih,” jawab Putri.
          Aku menggumam.
          “Terus gimana kelanjutannya?” tanyaku.
          “Karena aku kepikiran terus, aku ngajak dia nemenin aku beli kanvas. Aku tahu dia pasti nolak karena janji yang di SMS tadi. Aku mau tahu dia akan bohong atau jujur.”
          “Dan ternyata?”
          “Dia bilang dia mau main futsal sama teman-temannya,” ucap Putri tersenyum.
          Entah apa arti senyum itu.
          “Terus kamu langsung bilang yaudah?” tanyaku.
          “Aku bilang gini: ‘yaudah, aku ikut kamu main futsal, seselesainya kamu main futsal baru anterin aku’. Gitu,” lanjutnya.
          “Wah, pukulan telak. Terus dianya?”
          “Aku kenal dia banget. Pas dia ngasih alasan kelihatan banget dia bohongnya,” kata Putri.
          “Emang dia ngomong apa?”
          “Setelah main futsal aku mau ke rumah Ali, sayang. Kamu kenal Ali, kan? Itu, lho, yang keturunan Arab. Kami semua dijanjiin Ali makan masakan ibunya. Yang lain gak ada yang ajak pacarnya, jadi gak enak kalau aku ajak kamu,” ucap Putri menirukan perkataan Rangga.
          Aku tersenyum mendengarnya.
          “Terus dia pergi?”
          Putri mengangguk.
          “Mau bohong tapi ketahuan. Kasihan si Rangga,” ucapku.
          “Iya. Dia emang bodoh,” timpal Putri.
          “Lalu kamu langsung ke restoran tadi dan nangis di sana?”
          “Ya enggak, lah. Masa iya aku mau nangis aja harus ke restoran dulu,” katanya.
          “Lantas?”
          Putri mengatur napasnya. Siap melanjutkan cerita.
          “Di SMS itu kan perempuan itu ngingetin ketemuan. Nah di sana dia juga ngingetin tempat dan waktunya. Setelah Rangga pergi, aku buru-buru ganti baju dan kemudian nyusul dia ke tempat itu.”
          Persis sandiwara televisi.
          “Dan yang kamu lihat di sana?”
          “Aku males nyeritain bagian ini. Rangga kelihatan pecundangnya waktu aku pura-pura gak sengaja ketemu dia,” kata Putri.
          Aku tertawa mendengarnya.
          “Dia ngomong apa emangnya?” tanyaku memancing dia bercerita. Penasaran.
          “Dia cuma bengong kayak orang bodoh. Cewek itu yang banyak omong.”
          “Oh ya?”
          “Iya. Aku ngajak kenalan. Aku ngaku jadi teman Rangga di kampus. Kamu tahu bagaimana dia memperkenalkan diri?”
          “Apa? ‘Aku pacarnya Rangga’, gitu?”
          “Tepat!” jawabnya.
          Aku tertawa keras sekali.
          “Kenapa kamu jadi senang banget gitu? Kamu gak tahu rasanya jadi aku kayak gimana pas dia ngomong begitu? ” tanya Putri sewot.
          “Maaf, maaf. Aku cuma negbayangin gimana mukanya si Rangga waktu perempuan itu ngomong kayak gitu,” kilahku.
          “Muka Rangga cupu banget!” timpal Putri agak emosi.
          Aku tertawa lagi.
          “Kamu masih sedih? Kamu merasa tersakiti?” tanyaku setelah berhasil menguasai diri dari hasrat ingin terbahak terlalu lama.
          Putri diam.
          “Kamu masih cinta sama dia?” tanyaku lembut.
          Putri tersenyum.
          “Entahlah,” jawabnya.
          “Aku gak nyangka aja dia bisa kayak gitu,” katanya.
          Kembali dia tampak murung.
          “Ya sudah. Masih banyak waktu buat kamu memikirkan masalah ini,” jawabku sok.
          Dia tersenyum.
          “Setelah kejadian itu, Rangga terus nelpon aku. Aku gak angkat. Dia SMS, dia chat, aku gak balas. Biarin aja,” katanya.
          “Biarin aja dia ngerasa kalut. Biar dia kapok,” timpalku.
          Dia senyum lagi.
          “Makasih ya, Pak Guru,” tiba-tiba dia mengatakan itu.
          Kupandang wajahnya.
          “Makasih buat apa?” tanyaku.
          “Makasih, udah mau dengerin curhatan aku. Makasih udah nemenin aku sekarang,” katanya sambil senyum lagi.
          Kubalas senyumnya.
          “Setelah ini kamu mau ke mana?” tanyaku padanya.
          “Enggak tahu. Kamu ada acara?”
          “Ikut aku yuk! Bocah-bocah skeptis itu ngajak aku latihan nge-band nanti sore. Mau?” tawarku.
          Putri mengangguk.

(bersambung)

Minggu, 04 Agustus 2013

KARENA AKU: XIX


SEJAK peristiwa itu, hubunganku dengan Robi semakin memburuk. Mungkin kami masih saling menyapa jika bertemu, namun dalam hati siapa tahu. Tak ada yang mampu menebak warna hati Robi. Ia semakin jadi menyebalkan, terutama setelah menyadari bahwa keberadaanku justru semakin diterima oleh semua orang. Sama-sama melakukan kesalahan, tapi tatap mata orang terhadapku jauh berbeda dibanding tatapan mereka pada Robi. Siswa mulai enggan berurusan dengan Robi. Guru-guru pun demikian.
          Banyak hal yang dapat menjelaskan alasan di balik kejadiannya dengan Rama itu. Aku punya dugaan kuat: alasannya jelas Sinta! Belakangan ini Sinta memang terlihat jarang—bahkan sangat jarang—kulihat bersama Robi. Jika tidak bersama teman-teman perempuannya, Sinta lebih senang bersama Rama atau aku. Jika hendak mendiskusikan atau bertanya tentang sastra, hal yang selama ini mendekatkannya dengan Robi, Sinta kini lebih memilih aku.
          Jika mencocokkan kenyataan itu dengan selentingan kabar yang mengatakan adanya ”sesuatu” pada Robi terhadap Sinta, perkiraanku sepertinya mungkin saja.
          Putri pun sependapat dengan dugaanku.
          Kami sedang telepon-teleponan malam ini.
          “Dia cemburu. Sepertinya dia ingin membuat Rama malu, supaya Sinta membenci Rama,” kata Putri. Putri sudah tahu segala hal tentang Rama dan Sinta sejauh yang aku ketahui. 
          Berbagi cerita dengan Putri adalah kebahagiaan tersendiri bagiku.
          “Aku rasa juga begitu. Awalnya ia cemburu sama aku sampai ngirim sms ancaman aneh menggelikan kayak waktu itu, tapi akhirnya ia sadar kalo Sinta lebih akrab dengan Rama dibanding aku. Bidik cemburu alih target.”
          Putri sepakat.
          “Lebih baik Sinta sama Rama daripada harus sama Si Serba Hitam itu.”
          Putri ikut menyebut Robi dengan panggilan yang kubuat.
          Aku punya alasan untuk tertawa saat ini.
          “Ngomong-ngomong, gimana itu kelanjutan kisah Yuda dan Annelis, Rama dan Sinta. Sudah ada perkembangan menuju anggukan belum?” tanya Sinta.
          “Anggukan?” tanyaku sambil tertawa. Istilah yang digunakannya unik juga.
          “Iyah, anggukan menyatukan cinta,” jawabnya sambil tertawa juga.
          Kami tertawa bersama.
          “Gimana? Penasaran juga gimana hasilnya,” sambung Putri.
          “Belum. Yuda masih usaha. Rama sebentar lagi sukses sepertinya.”
          “Seneng ya. Dua orang yang sebelumnya galau, sekarang udah bisa usaha menemukan kebahagiaannya,” kata Putri.
          Nada suaranya terdengar seperti sedang membayangkan sesuatu.
          Kutanggapi pernyataannya dengan senyuman. Tanggapan yang mustahil dilihatnya.
          “Kamu sendiri gimana? Kamu usaha bantu teman kamu supaya bahagia sama pasangan yang diimpikannya, tapi kamu masih jomblo juga. Kamu gak usaha juga?”
          Pertanyaan yang membuatku kehilangan kemampuan menyusun kata.
          “Halo?”
          “Iya Put?” sahutku.
          “Kamu sendiri gimana? Masih betah ngejomblo? Mau aku kenalin sama teman aku? Atau ada guru di sekolah yang kamu taksir? Bilang aja, biar aku bantu kamu.”
          “Ada, Put. Kamu.”
          Putri tidak mendengar jawaban itu. hanya aku dan Tuhan yang mendengarnya.
          “Belum, Put,” jawabku.
          “Belum apa, nih? Belum nemu yang tepat?”
          “Sudah, Put. Kamu! Belum itu maksudnya kamu belum putus sama pacar kamu.”
          Lagi, hanya aku dan Tuhan yang mendengarnya.

(bersambung)

Sabtu, 03 Agustus 2013

BIARLAH WAKTU MENJADI TANDA

Biarlah waktu menjadi tanda
bahwa aku pernah bahagia
di antara mawar dan segar udara
dalam sekat antara mimpi dan nyata

Biarlah waktu menjadi tanda
bahwa pada lalu pernah ada canda
yang tanpa ragu menghadirkan tawa
jadi kanvas saat melukis senyummu, cinta

Biarlah waktu menjadi tanda
bahwa pernah mengalir juga airmata
yang dengan getar tertahan kuseka
menyatu menyerap jadi sedih kita

Biarlah waktu menjadi tanda
bahwa pernah hidup mimpi sempurna
yang kemudian takpernah jadi nyata
sebab cinta tak semudah pelafalannya

Biarlah waktu menjadi tanda
bahwa aku tak berubah selamanya

Kamis, 01 Agustus 2013

KARENA AKU: XVIII

PERTEMUANNYA dengan Annelis membuat Yuda kembali menyusun mimpi yang hampir saja dihancurkannya. Sebuah lukisan di kamarnya sudah tidak ada di tempat. Ia telah menjual lukisan berjudul Annelis itu dengan bayaran sejumlah dua belas angka yang dapat memisahkan jarak antara ia dan perempuan berambut emas itu. Pulsa handphonenya kini telah digunakannya sebagaimana mestinya.
          “Galaunya udah tamat nih kayaknya?”
          Aku menemukannya sedang asyik dengan handphonenya. Diketiknya sesuatu sambil tersenyum.
          Sejak pentas seni itu, Yuda dan Annelis semakin intens berkomunikasi. Dari komunikasi-komunikasi itu, Yuda mengetahui banyak hal tentang Annelis. Dia—Annelis—baru kembali setelah menyelesaikan studi creative and performing arts-nya di Leiden, Belanda. Sebuah kenyataan yang membuat mereka semakin dekat. Yuda juga telah mengetahui kebenaran perihal yang dilihatnya di sebuah pusat perbelanjaan tempo hari. Kenyataan yang membuatnya berani bermimpi lagi.
          “Ternyata, banyak hal tentang dunia seni yang gue enggak tahu,” katanya tiba-tiba setelah meletakkan handphone-nya di meja.
          “Annelis?” tanyaku.
          “Iya. Gue udah merasa puas dengan apa yang due dapet selama kuliah. Ternyata masih banyak lagi hal di luaran sana yang membuat gue sadar: pengetahuan gue belum ada apa-apanya.”
          “Enak dong, diajarin bule cantik?”
          Dia tertawa. Aku tak ingin mendengar pembicaraan itu lebih jauh. Sebelum akhirnya aku tak mengerti apa yang dia katakan, lebih baik kualihkan saja topik pembicaraan.
          “Gimana perkembangan pendekatan. Lancar?”
          Yuda tersenyum.
          “Masih usaha. Doain aja semoga sukses,” katanya sambil terkekeh.
          Kuaminkan yang terbaik untuknya.

DUNIA memang ditakdirkan untuk berputar dan terus berputar. Hingga Pemiliknya menghendaki untuk berhenti, dunia bersama waktu tak pernah lelah berlari.
          Banyak hal yang dapat dilakukan manusia selama dunia berpacu bersama waktu. Manusia lebur bersama waktu itu. Manusia luluh bersama dunia yang membawanya. Waktu dan dunia adalah teman untuk berbagi sekaligus musuh yang harus ditaklukkan. Keberhasilan, kesuksesan, ditentukan tergantung bagaimana manusia menempatkan dirinya dalam bergaul dengan waktu dan dunia.
          Cinta pun demikian.
          Tak ada yang lebih sempurna dalam cinta selain cinta yang membahagiakan. Tak ada yang lebih didamba selain cinta yang menenangkan.
          Dan untuk mencapai itu, dunia dan waktu perlu pembuktian.
          Sama halnya dengan apa pun, mimpi adalah awal dari geraknya manusia menggumuli waktu dan dunia. Mimpi adalah pendorong berkekuatan nitro yang mampu melesatkan seseorang menemukan cinta yang didambanya. Mimpi menjadi awal dari tiap langkah cinta yang membahagiakan dan menenangkan.
          Yuda dan Rama sudah merangkai lagi mimpinya. Mereka telah kembali bergelut dengan waktu dan dunia. Sementara aku masih saja terkapar dalam mimpi dan mimpi. Tak ada waktu yang dapat kukaribi. Keadaan tak mempertemukan. Tak ada juga dunia yang dapat menyadarkan, dunia bagiku hanya sebatas dering alarm di kamarku.
          Pagi ini, Putri diantar lagi oleh kekasihnya. Kemesraan yang memaksaku harus mengungkung perasaan makin dalam. Dalam. Dalam.

KEJADIAN kemarin masih menjadi topik yang diperbincangkan. Tak hanya di ruang guru. Kelas, kantin, pos satpam, halaman, tempat parkir, uks, bahkan perpustakaan sedang hangat membicarakan hal itu. Sepertinya mereka kagum menemukan sosok superhero di dalam tubuh kurusku.
          Hari ini akan ada rapat dewan guru. Tindakanku kemarin—harus kuakui—memang di luar batas. Jelas aku telah melakukan kesalahan dengan memukul lelaki pecundang itu. Harusnya aku mampu mengendalikan diri. Memukulnya sama artinya dengan sama pecundangnya aku dan ia. Biarlah. Aku hanya muak dengan perkataan menjijikkannya saat itu. Jika kubiarkan, entah apa yang terjadi dengan Rama saat ini.
          Setidaknya, aku membuat Rama merasa bukan pada tempatnya ia dipersalahkan dengan masalah sesepele itu.
          Rapat dewan guru sedang berlangsung. Kami semua berkumpul di aula. Kepala sekolah memimpin acara ini. Hal yang dibahas tentu tentang masalah itu. Aku dan Robi menjadi tokoh utama dalam rapat kali ini. Jelas aku menang mutlak. Hampir semua yang hadir mendengar apa yang perkataan merendahkan yang diucapkan Robi saat itu. Pak Kepala Sekolah pun mulai terbuka keberpihakannya dan kini kembali pada posisi netral.
          “Yah, bagaimanapun, Pak Robi harus mengakui bahwa apa yang dikatakannya pada Rama adalah perbuatan yang sangat tidak pantas,” ucap Kepala Sekolah penuh wibawa.
          “Tapi kita juga tidak dapat membenarkan pemukulan di lingkungan sekolah dengan alasan apa pun. Tindakan itu jelas mencemarkan nama sekolah seandainya berita itu tersebar. Apa yang ada di benak masyarakat jika tahu ada sekolah yang gurunya baku hantam di tempat seharusnya intelektual dikedepankan?”
          Aku kehilangan pita suara.
          “Kalian berdua masih muda,” lanjut Kepala Sekolah.
          Andai ada penyumbat telinga, aku ingin memakainya.
          “Kalian harus mampu mengendalikan emosi,” lanjut Kepala Sekolah, “kita, guru, harus menunjukkan sesuatu yang patut ditiru oleh siswa. Ingat, kita guru. Digugu dan ditiru. Kita harus menjadi teladan yang baik bagi mereka.”
          Ruangan senyap.
          “Maaf, Pak Kepala. Lalu kebijakan apa yang akan kita ambil untuk dua guru ini?” Pak Rahmat mengajukan pertanyaan. Semua guru memandang padanya saat ia mengatakan hal itu, kemudian mata-mata itu kembali lagi menatap ke arahku.
          “Pihak yayasan belum memiliki peraturan yang mengikat tentang hal ini. Hal itu juga tidak tertulis dalam kontrak yang kalian tandatangani. Untuk hukuman, mungkin kita dan pihak yayasan harus membicarakannya lagi agar ke depannya peristiwa seperti ini tidak harus terulang lagi. Jujur saja, saya pun keberatan jika kedua bapak ini harus dipecat karena masalah ini. Saya sudah bicara dengan pihak yayasan dan mereka memahaminya. Dua guru ini masih muda. Hasil yang mereka capai selama ini memuaskan. Grafik peningkatan nilai bahasa Indonesia siswa patut kita ucapkan hamdalah.”
          “Jadi?” tanya Pak Rahmat.
          “Hanya ada hukuman moral. Mereka harus mengaku bersalah di hadapan murid saat upacara senin nanti.”

(bersambung)