Translate

Kamis, 27 Juni 2013

KARENA AKU: VI


RAMA sedang duduk menghampa di taman pinggir lapangan sambil menatap gerbang yang penuh siswa lalu lalang. Tangannya menopang dagunya. Tadi aku juga mengajar di kelasnya. Selama pelajaran tadi pun kulihat ia tidak konsentrasi pada materi yang kusampaikan. Beberapa kali kupergoki ia melamun. Kadang menyoret-nyoret sesuatu di bukunya padahal aku sedang tidak memberikan catatan. Ada apa dengan cowok satu ini?
          Kuhampiri ia.
          “Kenapa, Ram?” tanyaku
          “Eh, Bapak. Enggak apa-apa, Pak!”
          Ha! Tak akan pernah tak ada alasan seseorang, apalagi laki-laki muda jika ia duduk bengong dengan wajah semuram itu.
          Ia tampak salah tingkah.
          “Cinta ya, Ram?” pertanyaan tebakanku ternyata membuat wajahnya bersemu.
          Aku iri dengan gejolak remaja mereka.
          Penuh romansa!
          “Gak baik bocah macam elu galau, Ram!”
          “Siapa juga yang galau. Bapak sok tau nih!”
          “Sinta, kan?” kutodong ia dengan tatapan selidik. Wajahnya makin memerah.
          Aku tertawa sambil mengacak-acak rambutnya. Tanpa ia menjawab tebakanku pasti benar. Yang ia lihat di pintu gerbang memang Sinta. Tidak salah lagi! Kebetulan macam apa yang mempertemukan dua nama epos Ramayana ini?
          “Sinta saya kayaknya kepincut sama Rahwana, Pak.”
          “Apa?” kagetlah aku mendengar apa yang Rama katakan tadi.
          Rama menembus kabut menembus dunia wiracarita. Ia mengajakku serta. Kami berada di antara pepohonan lebat yang tak membiarkan sinar matahari langsung menyapa tanah. Hanya sebagian kecil dari mereka yang berhasil menyusup di antara ranting-ranting dan daun-daun. Di kejauhan semak-semak bergemerisik. Seekor kijang muncul dari semak itu.
          Ia tampak gagah dengan busur dan anak panah tersampir di pinggangnya. Aku menjelma jadi Laksmana, menemani perjalanannya. Tapi ini bukan lakon Ramayana. Dewi Sinta tidak diculik oleh Rahwana. Sinta justru datang sendiri mendekati Rahwana. Kijang yang muncul tadi bukan jelmaan Rahwana. Sang Dasamuka tak perlu menyamar agar Sinta tertarik mendekatinya. Sinta pun tak kubatasi geraknya dalam sebuah lingkaran dan aku tidak juga terkena tipu muslihat Rahwana yang memaksaku harus meninggalkan Sinta seorang diri. Tidak! Ini sama sekali bukan Ramayana. Sinta sendiri yang menghampiri raksasa berpakaian serba hitam itu. Mereka terlibat dalam pembicaraan yang sangat mesra, menyulut api cemburu Sang Rama.
          Rama memasang anak panah pada busurnya. Panah itu kemudian terentang. Aku yakin, begitu anak panah itu meluncur membelah udara, angin lesus dengan raungan yang menggila pasti akan tercipta. Rama telah membidik sasarannya. Panah dengan kekuatan mengerikan itu pasti akan menancap sempurna di dada Rahwana.
          Rama menarik napas. Perlahan ia hembuskan karbondioksidanya dan bwussshhh! Lesatan anak panahnya benar-benar mengeluarkan angin lesus. Sedemikian dahsyatnya kekuatan luncuran anak panah itu hingga membuat Sang Rama tersadar dan kembali ke taman pinggir lapangan.

DI gerbang sana, Sinta sedang asyik bercakap-cakap dengan si guru serbahitam. Di tangannya tergenggam sebuah buku. Beberapa kali Sinta membuka dan membaca buku itu di depan si serbahitam.
          “Itu Rahwananya, Ram?” tanyaku. Kutunjuk si serbahitam dengan ujung bibir.
          Rama mengangguk. Anggukan yang lantas mengundang gelak tawaku.
          “Kenapa ketawa, Pak?”
          “Si item itu ngerebut Sinta dari elu?”
          “Enggak bisa dibilang ngerebut juga sih, Pak.”
          “Lah tadi katanya?”
          “Jadi gini pak….”


HARI itu Senin, upacara bendera sedang dilaksanakan di lapangan. Para siswa berbaris dengan seragam putih-putih. Teratur. Dari kelas satu ke kelas enam. Dari anak terpendek ke yang paling tinggi. Beberapa siswa dengan antusias mengikuti jalannya upacara. Beberapa lainnya diam-diam saling berbisik dengan teman sebelahnya. Banyak yang berdiri tenang, lebih banyak lagi yang berdiri gelisah. Doyong kiri doyong kanan.
          Rama kecil memerhatikan hal itu dari ruang guru, ditemani ibunya. Ini adalah hari pertamanya belajar di sekolah.
          Rama kecil tergagap saat diminta oleh gurunya memperkenalkan diri.
          “Na.. nama aku Rama. A.. aku pin..dahan.. dari Semarang.”
          Rama yang saat itu masih kelas 2 memperkenalkan diri sambil menatap lantai. Entah yang diajak bicara teman-temannya atau lantai. Atau mungkin lantai itu dianggapnya teman. Entahlah.
          “Iya anak-anak. Mulai hari ini Rama akan belajar bersama kita. Nanti kalian berteman yang baik ya!” lembut mengalun suara guru baru Rama yang dijawab koor oleh murid-murid.  Rama mengangkat kepala. Matanya menyapu semua teman sekelasnya dengan tatapan malu-malu. Hanya ada satu kursi yang tidak diduduki murid. Tepat di sebelahnya duduk seorang anak perempuan yang terus tersenyum pada Rama. Kau pasti tahu siapa dia.
          “Ayo Rama, itu ada kursi kosong di sebelah Sinta. Kamu duduk di belakang tidak apa-apa ya?”
Rama mengangguk, lalu duduk di tempat yang dimaksud.
          “Hai, aku Sinta.”
          “Aku Rama.”

“WOW, sejak saat itu elu suka sama Sinta, Ram?”
          “Enggak saat itu juga sih. Seiring jalannya waktu kayaknya saya kok nyaman banget sama dia. Apapun yang kami lakukan, selama kami bareng, adalah kesenangan buat saya. Enggak ada dia, saya kayak jalan dengan satu kaki. Kayak terbang dengan satu sayap. Enggak bisa apa-apa, Pak.”
          Nice quote from Rama!
          “Kenapa elu enggak bilang aja Ram kalo emang suka?”
          Rama tampak berpikir keras menjawab pertanyaanku. Aku rasa dia sudah tahu jawabannya. Hanya saja perlu pengungkapan dengan kata yang tepat. Seseorang yang dengan tulus memendam perasaannya tidak akan tidak memiliki sebuah alasan untuk terus menyimpan perasaannya. Semelankolis apa pun jawaban Rama, aku sudah siap menunggu.
          “Karena cinta saya bertepuk sebelah tangan. Malah mungkin seperempat tangan.”
          Ada getar pada tubuhku saat Rama mengatakan itu.
          “Udah pernah ngungkapin, Ram?”
          “Belum, pak,” jawabnya, “tapi tanda-tanda ke sana emang jelas enggak ada.”
          “Tanda-tanda apa maksudnya?” tanyaku menyelidik.
          “Tanda kalau dia suka sama saya, Pak. Suka sih mungkin, tapi cuma sebatas teman. Udah, gak lebih.”
          “Tapi temenan juga udah nyaman kan, Ram?” tanyaku mencoba menghiburnya.
          “Iya sih. Tapi kan tetep aja,” katanya datar.
          “Tetep aja gimana?”
          “Yah, tetep aja beda, Pak.”
          “Menurut lu Ram,” aku mencoba menyusun kata yang baik sejenak. Menyusun kata-kata untuk menghibur sekaligus memotivasi bukan pekerjaan yang mudah, “sama gak sih cinta sama nafsu itu?”
Rama diam. Aku juga diam. Jangan-jangan pertanyaanku belum layak diutarakan pada anak sekolah semisal Rama.
          Rama masih saja diam. Sepertinya perkiraanku benar.
          “Yaudah, Ram. Akan ada saatnya, nanti. Sekarang lu jangan galau-galau gak jelas gini. Emangnya kalau elu galau, bengong-bengong gak karuan begitu, Sinta bakal cinta sama elu? Kalo gue jadi Sinta mah gak akan, Ram! Kalo elu begini terus, elu bukannya akan disuka, dicinta, tapi dikasihanin. ‘Jadi Rama galau gara-gara gue?’ kalo sampai Sinta mikir kayak gitu kemungkinannya cuma dua: dia kasihan atau dia justru ninggalin elu. Selama ini kalian berteman akrab, kan? Coba bayangin misalnya elu di posisi Sinta sekarang, Elu ngelihat Sinta sedih gara-gara elu. Apa yang elu rasain?”
          Rama menimbang-nimbang sesuatu sambil bergumam.
          “Pasti saya ngerasa salah, Pak,” jawabnya cukup lama.
          “Nah!” seruku, “terus apa yang akan lu lakuin?”
          Rama membayangkan hal itu lagi.
          “Saya akan ngerasa serba salah banget. Akan bingung banget harus ngapain. Dan saya akan minta maaf,” jawabnya sambil menerawang entah ke mana.
          “Emangnya elu salah? Kenapa harus minta maaf?”
          Pertanyaanku sepertinya membuat Rama semakin berpikir dan berpikir.
          “Ya karena saya udah buat dia sedih, Pak,” katanya tanpa nada.
          “Kesalahan apa yang membuat dia sedih, Ram?”
          Sepertinya Rama memang hobi bergumam saat berpikir atau membayangkan sesuatu.
          “Mungkin salahnya karena saya enggak ngebales cinta dia,”
          “Apa itu kesalahan, Ram?”
          Ia menggeleng.
          “Lu pasti akan berusaha gimana caranya supaya sahabat lu itu enggak sedih ngegalau lagi kan?”
Dijawabnya dengan anggukan.
          “Berarti elu akan mencintai dia. Padahal awalnya biasa aja.”
          Ia diam.
          “Elu terpaksa mencintai dia?”
          Tidak ada jawaban. Kutepuk bahunya.
          “Gak usah ngegalau. Yang perlu lu lakuin sekarang adalah act! Buat dia kagum sama lu. Buat dia tertarik sama lu bukan karena enggak mau liat lu sedih, tapi karena sesuatu dalam tanda petik,” kataku mencoba memberi saran.
          “Buat dia terkesan sama lu.”

(bersambung)

KARENA AKU: V


BENAR, menjadi guru benar-benar menghadirkan nostalgia kegilaan remaja. Melihat mereka berkerumun di kantin saat istirahat mengingatkan aku pada aktivitas serupa. Tanpa sadar aku bergabung dengan mereka.
          “Lagi bingung nih, Pak. Sebentar lagi pensi, kami mau tampil tapi kekurangan orang,” kata salah satu dari siswa yang duduk di sebelahku.
          Pensi diadakan bulan ini, memperingati hari lahir sekolah.
          “Carilah. Apa susahnya nyari personel?”
          “Susah nyari yang ber-skill dan sehati, Pak,” keluh mereka.
          “Ah, gaya kalian. Kayak kalian ber-skill aja.”
          “Eits, jangan salah,” ucap salah satu dari mereka.
          “Jangan salah apa?” potongku.
          “Kami emang enggak ber-skill, Pak. Makanya nyari yang ber-skill supaya unskill kami ke-cover.”
          Mereka tertawa. Aku juga.
          Tertawa bersama benar-benar menyenangkan.
          “Emangnya kalian mau perform apa sih?” tanyaku melanjutkan pembicaraan.
          “Band, Pak. Tampang ganteng kayak kami kan enggak ada tampang seni lain selain band. Iya gak?”
          “Enggak ah,” jawab temannya. “Emang iya, Crut?”
          “Enggak juga. Muka lu cocok jadi penari.”
          “Penari topeng!”
          “Muka lu tuh, pas buat seni ukiran.”
          Menertawakan teman memang menyenangkan. Ups!
          “Muka lu tuh, persis kecrekan tutup botol!”
          “Ah, bas betot!”
          “Harmonika jigongan!”
          “Eh eh ada Silvi.”
          “Hai Silvi!”
          Perkara Silvi mereka kompak.

TADI pagi aku melakukan lagi, berdiri di gerbang menyapa yang datang. Kali ini tidak sendiri. Putri datang pagi. Dia menemaniku.
          Aku ditemani Putri.
          Aku ditemani Putri!
          “Aku enggak pernah kepikiran, hal sederhana gini seru juga yah,” katanya sambil sibuk meladeni siswa yang menyalaminya.
          “Iya, kita bisa tahu mana murid yang dateng pagi, mana yang dateng mepet-mepet. Mana yang dateng rapi, mana yang kusut. Kayak ini nih contohnya.”
          Seorang siswa berbadan besar, gemuk hitam, dengan baju dimasukkan sekenanya menjadi sasaran tunjukku.
          “Saya kenapa, Pak?” tanyanya bingung karena mendadak aku menjadikannya contoh. Mungkin dia mengira aku menjadikannya contoh evolusi bekantan yang terpapar matahari.
          “Itu baju rapiin!”
          “Emang begini belum rapi, Pak?” ia mencoba memasukkan lagi bajunya yang keluar. Seadanya. Hasilnya jauh dari rapi.
          “Eh, yang bener dong. Ganteng-ganteng masa berantakan sih,” Putri turun tangan.
          “Iya, Bu. Siap,” dia langsung memasukkan bajunya dengan benar. Bahkan langsung ngaca di Avanza-nya kepsek.
          “Heh, dasar! Bu Putri yang bilang aja langsung nurut, saya yang nyuruh begitu.”
          “Ya beda lah, Pak. Bapak jelek, Bu Putri cantik.”
          “Lalu?” tanyaku. Belum menemukan apa korelasi antara jelek cantik dan menuruti perintah merapikan baju.
          “Ya enggak apa-apa sih, Pak. Cuma mau ngasih tahu kalo Bu Putri cantik, Bapak jelek. Saya pikir tadi di sini ada syuting beauty and the beast.”
          Sompret!

ENTAH apa sebabnya, tiap aku masuk kelas ini mereka selalu sangat senang. Mungkin karena kesan pembelajaran pertamaku di kelas ini berkenan bagi mereka, atau mungkin gaya mengajarku sesuai dengan yang mereka mau, atau mungkin juga senang karena tidak harus serius dan dapat bercanda saat kelasku. Entahlah. Selama mereka dapat menyerap materi yang aku sampaikan, kelakuan ajaib mereka di kelas kuanggap sebagai pewarna menyenangkan dalam pembelajaranku.
          Kelakuan kelas ini memang benar-benar ajaib. Tapi tidak kusangkal juga, mereka cukup cerdas untuk ukuran kelas seribut itu. Hampir semua pertanyaan yang kuberikan untuk sekadar mengetahui pemahaman mereka tidak pernah sepi dari jawaban benar.
          Seberapa ajaib kelas ini? Coba saja kau masuk ke sini. Kelas yang tak pernah tenang kecuali saat ujian ini benar-benar dihuni oleh siswa yang luar biasa. Andai saja mereka tidak bisa menjawab soal-soal yang kuberikan, aku tidak akan ragu-ragu untuk membentak mereka satu persatu dan mengibarkan mereka di ujung paling tinggi tiang bendera di lapangan dan kemudian memanggil siswa sebanyak-banyaknya untuk menonton sambil bertepuk tangan, bukan hormat sebagaimana layaknya pada bendera.
          Ada satu siswa yang hobi nyeletuk. Apa saja yang dikatakan tak pernah tidak selalu disambut oleh celetukan teman lainnya. Tak jarang olehku juga. Ada juga bocah lelaki besar dekil yang hobi menggoda teman perempuannya. Yang diganggu bukannya rela-rela saja diganggu, tapi karena perawakan anak itu yang mengerikan membuat perempuan-perempuan itu maklumi saja keadaannya—bocah itu jomblo memprihatinkan.
          Di antara mereka, ada satu yang dengan tenang mendengarkan segala apa yang kukatakan. Kadangkala disertai senyuman. Tampaknya dia sangat tertarik dengan semua materi yang kami bahas.
Dia adalah anak yang menanyakan Umar Kayam, yang cerita yang dibuatnya tempo hari membuat aku hapal betul pada wajah dan namanya. Mungkin karena kegagalannya mengerjaiku dulu ia jadi begitu tenang memperhatikan, atau mungkin karena memang menganggap pembelajaran bahasa Indonesia begitu penting. Biarlah aku tidak perlu tahu. Yang penting anak ini memiliki alasan yang membuatnya lebih mudah memahami apa yang kusampaikan.

KARENA AKU: IV


MATAHARI menyebarkan kehangatan yang nyaman. Aku duduk di beranda. Memanjakan kulit keringku disapa keramahan mentari minggu pukul tujuh. Di depan gang, para ibu bercengkrama. Masing-masing mereka menggendong bayi. Bayi mungil dalam kain gendongan. Matanya yang bulat mengkristalkan kemilau bola yang bening. Tatapan mereka adalah keteduhan. Dan pipi itu, ah!
          Aku senang menggoda bayi-bayi itu. Kuletakkan jariku di telapak tangan mereka. Jari-jari mungil itu kemudian menggenggamnya. Genggaman tanpa tenaga. Genggaman menggemaskan.
          Aku melakukan hal itu lagi pagi ini.

AKU tinggal di sebuah perkampungan lumayan padat di jantung kota Jakarta. Awalnya aku tak tahu di sana ada perkampungan. Yah, Kuningan yang kutahu adalah jejeran gedung perkantoran yang tinggi menjulang.
Di sana, aku memiliki banyak kenalan baru. Salah satu yang langsung dekat denganku adalah pelukis muda yang membuka studio di dekat warteg tak jauh dari kosku. Yuda. Kuanggap dia manusia aneh: membuka studio lukis di perkampungan seperti ini. Siapa yang akan tertarik?
          Keanehannya itulah yang justru membuatku jadi mengenalnya.
          Ia tinggal bersama seorang nenek tua yang ternyata bukan neneknya. Pantas aku tak melihat kemiripan di antara mereka. Ia mengenal nenek itu begitu saja. Si nenek hidup seorang diri di Jakarta setelah suaminya meninggal. Sebenarnya ia tidak benar-benar hidup sendiri. Sejak suaminya tidak mampu lagi mencukupi kehidupannya, ia dan suaminya tinggal di rumah anak suaminya. Si anak agak setengah hati menerima kehadiran nenek itu.
          Suatu hari sang suami meninggal dan nenek yang malang benar-benar seperti hidup dalam paradoks: sepi di keramaian. Rumah yang dia tempati ramai, tapi tak satu pun ada yang mau bicara dengannya. Jangankan bicara, melihat pun sepertinya mereka enggan. Ia dianggap tidak ada di sana. Si nenek benar-benar sangat menderita. Makin lama perlakuan keluarga itu makin parah. Tidak hanya senyum, perlahan makan dan minum yang biasanya disiapkan menjadi ikut tak dirasakan nenek itu. Tak tahan, nenek pun lalu pergi dari rumah. Ia tak mau lagi menyusahkan anak tirinya.
          Saat pergi dari rumah itulah ia bertemu dengan si pelukis muda. Awalnya si pelukis muda iba melihat seorang nenek tua yang berjalan tertatih kebingungan di depan studionya. Dari perawakannya pelukis muda itu tahu bahwa nenek itu bukan pengemis–pengemis biasanya segar bugar tapi dilemas-lemaskan. Nenek itu benar-benar lemas. Ia menyilakan nenek itu masuk. Dijamunya layaknya tamu. Diberinya nenek itu makan. Nenek menceritakan apa yang dialaminya pada Yuda. Si pelukis iba dan mengizinkan nenek itu tinggal di studionya, bersamanya. Ia memang tinggal sendiri di studio itu. Diperlakukannya nenek itu layaknya ibu sendiri. Nenek pun menganggap si pelukis muda itu sebagai anak sendiri.
          Saat nenek menceritakan kisah itu padaku, aku menangis. Dalam hati aku berharap semoga anak tiri nenek itu akan diperlakukan sama saat dia tua nanti. Semoga!


LAPAR menuntunku melangkah menyambangi studio kawanku. Ia sedang mengerjakan sebuah lukisan, berdiri membelakangiku. Pelan-pelan kuhampiri ia.
          Ia sedang melukis potret wanita.
          Aku tak ingin merepotkannya seandainya kukagetkan ia. Jadi kutunggu hingga ia meletakkan kuasnya. Kutahu ia pasti akan melakukan hal itu. Keringatnya sudah sebiji jagung.
          “Pesenan?”
          Benar, ia kaget.
          “Datang diem-diem. Untung enggak gue teriakin maling.”
          “Ya elu, gue masuk enggak sadar. Untung yang masuk bukan maling.”
          Aku duduk di kursinya. Kursi yang aku sendiri tak paham layak disebut kursi atau tidak. Ini hanya potongan pohon yang diperhalus dan diratakan bagian atas dan bawahnya. Ada tiga benda seperti ini, mengelilingi meja bundar kecil. Di atas meja itu mengepul hangat asap kopi.
          Dia lalu duduk di seberangku.
          “Tumben kemari pagi-pagi,” ucapnya sambil mengambil koran pagi. Dibacanya.
          “Main aja. Enggak ada larangan cowok ganteng main ke sini pagi-pagi, kan?”
          Kuseruput kopinya pelan-pelan.
          “Itu tadi lukisan pesenan? Akhirnya ada juga yang mesen lukisan sama lu ya,” kataku sambil tertawa. Dia menatapku. Di bola matanya kulihat ia mengacungkan belati. Tapi senyumnya mengatakan sebaliknya. Ia paham aku bercanda.
          “Tapi tumben lu ngelukis manusia. Biasanya yang lu gambar kan….”
          Ia meletakkan koran paginya, menyeruput kopi, dan tak sadar kopinya berkurang. Lalu ia memandang lukisannya yang hampir selesai. Tersenyum.
          “Lagi kangen.”

SI PELUKIS sedang membuka lembar masa lalunya, mempersilakan aku membacanya.
          Wanita dalam lukisan itu adalah tokohnya. Namanya Annelis. Rambut kuning keemasan menghiasi wajahnya yang bundar. Wajahnya sangat eropa, tapi bola matanya coklat. Ann remaja memiliki sepasang bibir yang melengkungkan mahasenyum.
          Yuda muda masih di Bandung.
          Udara pagi itu membawa udara basah. Hujan siap menyapa. Yuda masih ingat betul kejadian saat itu. Ia hendak berangkat sekolah. Perlu jalan kaki setelah turun dari angkutan umum untuk sampai di sekolahnya. Lumayan jauh. Dalam perjalanan itu hujan turun. Yuda menyesal tidak mendengar peringatan ibunya. Si payung ungu dibiarkannya tergeletak di meja.
          Ia berteduh di depan warung yang belum buka.
          Satu menit.
          Dua menit.
          Lima menit.
          Tiga menit lagi bel.
          Yuda gelisah. Hari itu ulangan harian fisika. Ia sudah belajar semalaman. Ia tidak ingin perjuangannya semalam sia-sia hanya karena alam yang tak mendukung.
          Menunduk, ia menggulung celananya. Asal. Celananya tergulung setengah betis. Celana sudah siap. Ia lalu menyiapkan dirinya, menghirup oksigen dan menyimpannya di paru-paru sebanyak-banyaknya. Siap berlari.
          Tapi urung.
          Ia disapa oleh senyuman. Ann menyodorkannya payung.
          Yuda membatu. Seperti tersihir medusa.

MIRIP cerita roman, Yud!” kuacungkan jempolku ke depan mukanya. Ia tertawa.
          “Gitu deh. Deg-degan, man! Itu pertama kalinya gue liat cewek bule seumuran gue. Cakep banget!”
          “Terus gimana? Kalian kenalan?”
          “Enggak, abis ngasih payung dia langsung pergi.”
          “Ah, dodol lu!”
          Nenek datang membawa ubi kukus yang masih mengepul. Perutku berteriak histeris. Yeah! Akhirnya keluar juga yang kutunggu-tunggu!
          “Lanjut, Yud!” kucaplok ubi panas-panas.

ULANGAN fisika diadakan pada jam pertama. Yuda mencoba konsentrasi. Dibacanya soal-soal itu. Dibacanya lagi, lagi, dan lagi. Gagal. Tiap ia menyapu mata pada huruf dan angka di kertas soal itu justru juntaian rambut kuning keemasan tertiup angin hujan yang tampak. Tiap ia memejamkan mata, mencoba menghilangkan ilusinya, ia justru melihat senyuman di kelopak matanya.
          Ia kalah dalam pertarungan melawan bayang-bayang. Dilihatnya payung kuning itu. Masih basah. Ia tersenyum sendiri.
          “Lima menit lagi!” suara gurunya lantang.
          Yuda tersentak. Ia baru menyelesaikan tiga soal. Tujuh lagi. Buru-buru dikebutnya soal-soal tersisa.
Bagi dia, pemberitahuan waktu tersisa jadi semacam dopping.
          Kertas jawabannya kosong satu.

JADI  percuma dong elu belajar semaleman. Pas ulangan malah keinget si pirang,” kali ini aku yang terbahak.
          “Enggak juga kok. Gue dapet tujuh setengah waktu itu,” giliran ia yang tertawa.
          “Wih, hebat juga lu!”
          “Eh, tujuh setengah apa tujuh, ya?”
          “Ya mana gue tau.”
          “Gue lupa.”
          “Yaudah lah. Gak penting juga gue tau nilai ulangan fisika lu berapa.”
          Aku lupa apakah aku pernah tidak remedial fisika saat SMP dulu. Sepertinya tidak pernah. Cecunguk satu ini hebat juga.
          “Terus gimana?”

SEPULANG sekolah, Yuda kembali ke tempat ia bertemu Annelis. Ia tidak tahu dari mana Annelis tadi pagi muncul. Karena itu ia tidak tahu ke mana harus mencari. Dilihatnya sekeliling, tak ada tanda-tanda Annelis.
          Ia ingin mengucapkan terimakasih. Dipeluknya payung itu.
          Ia tak menyangka bahwa Annelis memperhatikan setiap tindaknya.
          Hi!” suara lembut menyentuh Yuda dari belakang.
          Slow motion. Yuda menoleh. Menemukan senyum yang tadi terbayang di kelopak matanya.
          Hi!” balas Yuda. Ia sudah menyiapkan apa yang akan dikatakannya untuk gadis pirang ini jika nanti bertemu lagi. Tapi ia takut, takut jika gadis ini mengajaknya bicara dengan bahasa asing yang tidak dimengertinya.
          “This is your umbrella. Thank you very much,” kata inilah yang yang telah ia siapkan sedari tadi. Yuda gemetar menunggu balasan.
          “Sama-sama.”
          Bahasa Indonesia! Yuda berjingkrak dalam hati.

“JADI siapa sih sebenernya si Annelis ini. Gadis bule kok bisa bahasa Indonesia?”
          “Sabar atuh. Baru mulai cerita udah pengen tau siapa dia.”
          Nenek sudah ikut nimbrung mendengar FTV Yuda.

DUNIA Yuda muda seketika berubah. Ia yang biasanya hanya berkutat dengan buku sketsa, kini didominasi oleh tindakan baru: melamun.
          Saat di rumah, ia selalu ingin pergi ke sekolah. Ketika di sekolah, ia selalu mendamba pulang. Ia selalu ingin menemukan Annelis tersenyum melambaikan tangan dari beranda rumahnya.
          Bagi Yuda, saat-saat berangkat dan pulang sekolah adalah kebahagiaan yang melebihi bahagianya memakan mangga masak. Lebih manis dari teh madu kesukaannya.
          “Kamu masih belum diizinin main?” tanya Yuda suatu waktu. Ia ingin lebih lama menghabiskan waktu bersama Annelis.
          “Belum. Ayah aku belum pulang. Ibu tidak mengizinkan aku main sampai ayah mengizinkan.”
          “Kalau begitu kita diam-diam saja perginya.”
          “Tidak mau, ah. Aku tidak mau pergi kalau tidak ada izin.”
          Sambil mengatakan itu, dimainkannya rambut kuningnya.
          “Ayah kamu kapan pulangnya?”
          “Aku belum tahu. Mungkin sebentar lagi, mungkin juga masih lama.”
          “Janji yah, kalau ayah kamu sudah pulang kita pergi main.”
          “Oke, janji!”
          Mereka mengaitkan kelingking tangan kanan.

TERUS akhirnya kalian main?” aku penasaran kelanjutan cerita mereka.
          “Jadi dong! Empat hari kemudian ayahnya pulang. Gue dikenalin sama ayahnya. Ibunya udah kenal gue. Dia sering ikut nimbrung kalo gue sama Annelis lagi ngobrol. Ibunya udah tahu kalo gue anak baik-baik. Jadi pas gue bilang ke ayahnya kalo gue mau ngajak Annelis main, ibunya bantu ngeyakinin ayahnya. Bapaknya kolot naudzubillah.”
          “Kenapa emangnya?”
          “Jadi gini, dulu waktu mereka sekeluarga masih tinggal di Solo, Annelis pernah ngambek enggak mau keluar rumah karena dia diejek habis-habisan sama temen-temen sekolahnya karena dia beda sendiri. You know lah apa bedanya.”
          Aku mengangguk.
          “Nah, Annelis jadi takut sendiri kalo ngeliat anak seusia dia.”
          “Kok dia enggak takut ngeliat elu. Jangan-jangan elu dianggap seumuran bapaknya.”
          “Sial!” racau Yuda.
          “Ya abisnya….” aku dan nenek puas menertawakan Yuda.
          “Lanjut!” kataku.
          “Enggak mau ah!”
          “Yah, dia ngambek.” Nenek tampak senang sekali. Dialog tadi diucapkannya dengan nada menggoda.
          “Nih, nenek suapin ubi. Lanjutin dong, Yud.” Nenek menjejalkan ubi ke mulut Yuda. Usil juga si nenek. Aku tertawa. Yuda tertawa. Nenek tertawa.
          Kami tertawa.

(bersambung)