Translate

Sabtu, 03 Agustus 2013

BIARLAH WAKTU MENJADI TANDA

Biarlah waktu menjadi tanda
bahwa aku pernah bahagia
di antara mawar dan segar udara
dalam sekat antara mimpi dan nyata

Biarlah waktu menjadi tanda
bahwa pada lalu pernah ada canda
yang tanpa ragu menghadirkan tawa
jadi kanvas saat melukis senyummu, cinta

Biarlah waktu menjadi tanda
bahwa pernah mengalir juga airmata
yang dengan getar tertahan kuseka
menyatu menyerap jadi sedih kita

Biarlah waktu menjadi tanda
bahwa pernah hidup mimpi sempurna
yang kemudian takpernah jadi nyata
sebab cinta tak semudah pelafalannya

Biarlah waktu menjadi tanda
bahwa aku tak berubah selamanya

Kamis, 01 Agustus 2013

KARENA AKU: XVIII

PERTEMUANNYA dengan Annelis membuat Yuda kembali menyusun mimpi yang hampir saja dihancurkannya. Sebuah lukisan di kamarnya sudah tidak ada di tempat. Ia telah menjual lukisan berjudul Annelis itu dengan bayaran sejumlah dua belas angka yang dapat memisahkan jarak antara ia dan perempuan berambut emas itu. Pulsa handphonenya kini telah digunakannya sebagaimana mestinya.
          “Galaunya udah tamat nih kayaknya?”
          Aku menemukannya sedang asyik dengan handphonenya. Diketiknya sesuatu sambil tersenyum.
          Sejak pentas seni itu, Yuda dan Annelis semakin intens berkomunikasi. Dari komunikasi-komunikasi itu, Yuda mengetahui banyak hal tentang Annelis. Dia—Annelis—baru kembali setelah menyelesaikan studi creative and performing arts-nya di Leiden, Belanda. Sebuah kenyataan yang membuat mereka semakin dekat. Yuda juga telah mengetahui kebenaran perihal yang dilihatnya di sebuah pusat perbelanjaan tempo hari. Kenyataan yang membuatnya berani bermimpi lagi.
          “Ternyata, banyak hal tentang dunia seni yang gue enggak tahu,” katanya tiba-tiba setelah meletakkan handphone-nya di meja.
          “Annelis?” tanyaku.
          “Iya. Gue udah merasa puas dengan apa yang due dapet selama kuliah. Ternyata masih banyak lagi hal di luaran sana yang membuat gue sadar: pengetahuan gue belum ada apa-apanya.”
          “Enak dong, diajarin bule cantik?”
          Dia tertawa. Aku tak ingin mendengar pembicaraan itu lebih jauh. Sebelum akhirnya aku tak mengerti apa yang dia katakan, lebih baik kualihkan saja topik pembicaraan.
          “Gimana perkembangan pendekatan. Lancar?”
          Yuda tersenyum.
          “Masih usaha. Doain aja semoga sukses,” katanya sambil terkekeh.
          Kuaminkan yang terbaik untuknya.

DUNIA memang ditakdirkan untuk berputar dan terus berputar. Hingga Pemiliknya menghendaki untuk berhenti, dunia bersama waktu tak pernah lelah berlari.
          Banyak hal yang dapat dilakukan manusia selama dunia berpacu bersama waktu. Manusia lebur bersama waktu itu. Manusia luluh bersama dunia yang membawanya. Waktu dan dunia adalah teman untuk berbagi sekaligus musuh yang harus ditaklukkan. Keberhasilan, kesuksesan, ditentukan tergantung bagaimana manusia menempatkan dirinya dalam bergaul dengan waktu dan dunia.
          Cinta pun demikian.
          Tak ada yang lebih sempurna dalam cinta selain cinta yang membahagiakan. Tak ada yang lebih didamba selain cinta yang menenangkan.
          Dan untuk mencapai itu, dunia dan waktu perlu pembuktian.
          Sama halnya dengan apa pun, mimpi adalah awal dari geraknya manusia menggumuli waktu dan dunia. Mimpi adalah pendorong berkekuatan nitro yang mampu melesatkan seseorang menemukan cinta yang didambanya. Mimpi menjadi awal dari tiap langkah cinta yang membahagiakan dan menenangkan.
          Yuda dan Rama sudah merangkai lagi mimpinya. Mereka telah kembali bergelut dengan waktu dan dunia. Sementara aku masih saja terkapar dalam mimpi dan mimpi. Tak ada waktu yang dapat kukaribi. Keadaan tak mempertemukan. Tak ada juga dunia yang dapat menyadarkan, dunia bagiku hanya sebatas dering alarm di kamarku.
          Pagi ini, Putri diantar lagi oleh kekasihnya. Kemesraan yang memaksaku harus mengungkung perasaan makin dalam. Dalam. Dalam.

KEJADIAN kemarin masih menjadi topik yang diperbincangkan. Tak hanya di ruang guru. Kelas, kantin, pos satpam, halaman, tempat parkir, uks, bahkan perpustakaan sedang hangat membicarakan hal itu. Sepertinya mereka kagum menemukan sosok superhero di dalam tubuh kurusku.
          Hari ini akan ada rapat dewan guru. Tindakanku kemarin—harus kuakui—memang di luar batas. Jelas aku telah melakukan kesalahan dengan memukul lelaki pecundang itu. Harusnya aku mampu mengendalikan diri. Memukulnya sama artinya dengan sama pecundangnya aku dan ia. Biarlah. Aku hanya muak dengan perkataan menjijikkannya saat itu. Jika kubiarkan, entah apa yang terjadi dengan Rama saat ini.
          Setidaknya, aku membuat Rama merasa bukan pada tempatnya ia dipersalahkan dengan masalah sesepele itu.
          Rapat dewan guru sedang berlangsung. Kami semua berkumpul di aula. Kepala sekolah memimpin acara ini. Hal yang dibahas tentu tentang masalah itu. Aku dan Robi menjadi tokoh utama dalam rapat kali ini. Jelas aku menang mutlak. Hampir semua yang hadir mendengar apa yang perkataan merendahkan yang diucapkan Robi saat itu. Pak Kepala Sekolah pun mulai terbuka keberpihakannya dan kini kembali pada posisi netral.
          “Yah, bagaimanapun, Pak Robi harus mengakui bahwa apa yang dikatakannya pada Rama adalah perbuatan yang sangat tidak pantas,” ucap Kepala Sekolah penuh wibawa.
          “Tapi kita juga tidak dapat membenarkan pemukulan di lingkungan sekolah dengan alasan apa pun. Tindakan itu jelas mencemarkan nama sekolah seandainya berita itu tersebar. Apa yang ada di benak masyarakat jika tahu ada sekolah yang gurunya baku hantam di tempat seharusnya intelektual dikedepankan?”
          Aku kehilangan pita suara.
          “Kalian berdua masih muda,” lanjut Kepala Sekolah.
          Andai ada penyumbat telinga, aku ingin memakainya.
          “Kalian harus mampu mengendalikan emosi,” lanjut Kepala Sekolah, “kita, guru, harus menunjukkan sesuatu yang patut ditiru oleh siswa. Ingat, kita guru. Digugu dan ditiru. Kita harus menjadi teladan yang baik bagi mereka.”
          Ruangan senyap.
          “Maaf, Pak Kepala. Lalu kebijakan apa yang akan kita ambil untuk dua guru ini?” Pak Rahmat mengajukan pertanyaan. Semua guru memandang padanya saat ia mengatakan hal itu, kemudian mata-mata itu kembali lagi menatap ke arahku.
          “Pihak yayasan belum memiliki peraturan yang mengikat tentang hal ini. Hal itu juga tidak tertulis dalam kontrak yang kalian tandatangani. Untuk hukuman, mungkin kita dan pihak yayasan harus membicarakannya lagi agar ke depannya peristiwa seperti ini tidak harus terulang lagi. Jujur saja, saya pun keberatan jika kedua bapak ini harus dipecat karena masalah ini. Saya sudah bicara dengan pihak yayasan dan mereka memahaminya. Dua guru ini masih muda. Hasil yang mereka capai selama ini memuaskan. Grafik peningkatan nilai bahasa Indonesia siswa patut kita ucapkan hamdalah.”
          “Jadi?” tanya Pak Rahmat.
          “Hanya ada hukuman moral. Mereka harus mengaku bersalah di hadapan murid saat upacara senin nanti.”

(bersambung)

Rabu, 31 Juli 2013

KARENA AKU: XVII


SEKOLAH sudah kembali pada kenormalan. Keriuhan yang beberapa hari lalu menggema di seluruh dinding sekolah kini kembali sedia kala. Tidak ada musik menghentak. Tidak ada tarian melenggak.
          Semua telah kembali pada buku teks dan papan tulis.
          Keadaan sedang sangat riuh. Bel tanda istirahat baru saja berbunyi dan anak-anak sudah mulai turun dari kelasnya saat tiba-tiba terdengar suara keras. Sebuah gertakan dari suara yang kukenal betul.
          “Dasar anak gak berguna! Masa’ begini aja kamu gak bisa! Selama ini apa yang kamu pelajari, hah? Bodoh!”
          Kuhampiri sumber suara itu. Di sana, kulihat Rama menunduk sangat dalam. Di depannya berdiri Robi bertolak pinggang. Matanya tampak berapi.
          “Ada apa, Pak?” tanyaku pada Robi.
          “Lihat nih!” Dilemparkannya selembar kertas padaku. Sebuah puisi tertulis di kertas itu.
          “Saya mengikutsertakan anak bodoh ini dalam lomba puisi.”
          Bodoh? Seenaknya saja manusia ini mengucapkan kata itu di depan yang bersangkutan, di tempat umum.
          Saya pikir dia akan mampu memenangkan perlombaan itu. Saya sudah mengajarinya cara membuat puisi dan saya percaya dia akan menang. Tapi apa? Dasar bodoh!” hardik Robi.
          Rama semakin dalam menundukkan kepala. Banyak mata menatap ke arah kami.
          “Memang apa salahnya kalo dia kalah, Pak?” tanyaku sambil menepuk bahu Rama. Mencoba menenangkannya yang mulai gemetar.
          “Bodoh! Saya terlalu berharap dia bisa memenangkan perlombaan itu!” katanya berapi-api.
          Aku tak suka cara bicaranya.
          “Lagipula atas dasar apa Bapak mendaftarkan Rama dalam lomba itu? Emangnya Anda tahu kemampuan menulis puisi Rama?” tanyaku pada Robi.
          Robi tampak tidak menemukan jawaban pertanyaanku.
          “Saya mengajar di kelasnya. Saya lebih tahu kemampuan Rama,” sambungku.
          “Saya yang ngajar dia waktu dia kelas satu!” jawab Robi ketus.
          “Dasar anak bodoh! Masa’ membuat puisi aja gak becus. Dasar sam… ugh!”
          Robi terpelanting. Sebuah tinju mendarat mutlak di wajahnya.
          Murid-murid makin banyak yang mengerubungi kami. Beberapa guru juga hadir. Mereka serempak menatap ke arahku. Tanganku masih mengepal dan hendak menghajarnya lagi. Tapi Rama menahanku.
          “Apa-apaan ini!” tiba-tiba kepala sekolah datang. Robi segera bangkit dan menghampiri pamannya.
          Darah mengalir dari hidungnya.
          “Orang ini memukul saya, Pak!” adu Robi layaknya bocah.
          “Kamu tahu kan, kekerasan dilarang di sekolah ini!” kata Pak Kepsek padaku.
          “Keponakan Bapak juga melakukan kekerasan. Harusnya kalimat tadi Bapak tujukan pada ia juga,” kataku santai.
          “Kekerasan apa?” racau Robi.
          “Kalian berdua, ikut saya ke ruangan!” tegas Pak Kepala.

AKU muak dengan yang dilakukan oleh Robi. Jika kau tanyakan padaku apa definisi pecundang, tanpa ragu aku akan mengatakan: pecundang adalah manusia yang sejenis dengan Robi.
          Suhu di ruangan kepala sekolah cukup dingin, tapi tak mampu mendinginkan kepala Pak Kepala. Ia tampak sangat terganggu dengan kejadian yang terjadi barusan.
          Dengan penuh emosi, ia langsung menginterogasi kami. Ia bahkan tak menyilakan kami duduk.
          “Apa yang kau lakukan tadi? Main pukul seenaknya saja. Kau pikir di sini pasar yang tidak ada aturannya?”
          Pertanyaan yang jelas menunjukkan kemana kepala sekolah berpihak. Ke mana dia saat keponakannya itu mengucapkan kata-kata yang tak pantas?
          “Saya hanya mengikuti naluri, Pak,” jawabku datar, “saya tidak berkenan dengan perlakuan yang Pak Robi lakukan pada Rama.Lanjutku tetap dengan nada datar. Untuk apa aku ikut emosi dalam pembicaraan yang tampak berat sebelah seperti ini?
          “Naluri? Memukul rekan kerja di depan anak-anak kamu bilang naluri?”
          Aku tak menemukan kalimat yang tepat untuk menanggapi pertanyaan kepsek tadi. Aku memang melakukannya begitu saja, terdorong nafsu hendak menyudahi omongan pecundang satu itu.
          “Memang apa yang kamu lakukan, Rob?”
          “Saya hanya menasihati Rama, Pak.”
          Menasihati? Jangan buat aku tertawa, Robi!
          “Nah, apa yang salah? Pak Robi hanya menasihati anak murid.”
          “Perkataan kau bagian mana yang kauanggap nasihat, Rob?” tanyaku sambil menahan tawa. Perbincangan ini sungguh menggelikan.
          “Apa maksudmu?” tanya Robi.
          “Apa yang kaumaksud dengan menasihati itu?” tanyaku.
          Wajah Pak Kepala memerah. Entah apa penyebabnya.
          “Sudah, sudah! Pak Robi sudah mengatakan bahwa dia hanya menasihati murid bernama Rama itu. Tiba-tiba kamu memukulnya. Apa seperti itu perlakuan seorang guru di depan murid-muridnya? Apa tadi kamu tidak lihat banyak murid yang memperhatikan kalian?” tanya kepala sekolah setengah menggertak.
          “Kamu guru. Harusnya kamu menunjukkan apa yang seyogianya dilakukan guru. Kekerasan tanpa konfirmasi lebih dulu, main pukul, apa itu pantas dilakukan oleh seorang guru?” lanjut kepala sekolah.
          “Maaf, Pak Kepala Sekolah. Harusnya kalimat tadi juga bapak tujukan pada Pak Robi,” ucapku.
          “Kau yang memukul! Kau yang melakukan tindak kekerasan di sekolah!” hardik kepala sekolah.
          “Setiap pelanggaran pasti ada hukumannya. Ingat itu!” sambung kepala sekolah itu.
          Robi tersenyum.
          Kupenuhi paru-paruku dengan oksigen. Aku bukan orang yang senang berdebat. Khusus kali ini, aku wajib melakukannya.
          “Jika saya mendapat hukuman karena kekerasan, harusnya guru satu ini juga mendapatkan hal yang sama. Dia juga melakukan kekerasan pada Rama,” sahutku.
          “Apa? Apa yang aku lakukan. Jangan menuduh sembarangan!” kata Robi.
          “Jika kekerasan fisik dilarang dilakukan di sekolah ini, apakah kekerasan verbal diizinkan?” kataku tegas.
          Pak Kepala diam.
          “Orang ini mengatakan hal yang tidak pantas diucapkan seorang guru pada anak didiknya. Saya punya banyak saksi untuk hal itu jika Bapak ingin mengetahui kebenarannya,” sambungku.
Robi diam.
          “Memang apa yang Pak Robi katakan?” tanya Pak Kepala Sekolah.
          Kuulangi apa yang diucapkan Robi tadi. Tak kurang, tak lebih.
          Aku hapal betul.

DALAM keriaan pentas seni, di tengah bising dan hiruk pikuk seliweran siswa, Robi datang menghampiri Rama. Rama menyambutnya dengan ramah. Tak ada alasan baginya untuk menerima dengan dingin kedatangan gurunya itu.
          “Bisa kita bicara, Rama?”
          Rama tak menolak. Ia mengikuti Robi mencari tempat yang agak sepi.
          Mereka berdiri di lorong dekat tangga.
          Rama tidak tahu mengapa ia diajak bicara hingga Robi mengeluarkan selembar kertas. Pengumuman lomba menulis puisi antar-SMA.
          “Saya sudah mendaftarkan kamu untuk mewakili sekolah ini dalam lomba itu. Memang hadiahnya tidak seberapa, tapi sekolah kita adalah juara perlombaan itu tahun lalu. Saya yang mendampingi kakak kelas kamu itu,” jelas Robi.
          Rama diam. Ia terus memandangi pamflet itu tanpa membacanya.
          “Saya enggak jago nulis puisi,” ucap Rama lemah.
          “Tenang aja, nanti saya pinjamkan buku kumpulan puisi. Menulis puisi cuma masalah senang baca puisi atau tidak,” kata Robi.
Rama masih memandangi pamflet itu.
          “Tapi saya enggak suka baca puisi.”
          Lemah lagi Rama mengucapkan kalimat tadi.
          “Nanti kamu pasti suka. Masih ada waktu seminggu sampai perlombaan itu dimulai,” kata Robi.
          Rama menimbang-nimbang.
          “Sudah, tenang saja. Nanti saya bantu. Tiap pulang sekolah temui saya di perpustakaan!”

ADA riak yang menggelembungkan banyak tanda tanya tentang hal itu. Aku, meskipun belum terlalu lama, sudah mengajar di kelas Rama dan tahu bagaimana kemampuan bersastranya. Masih banyak siswa lain yang lebih mahir merangkai kata penuh denotasi dibanding Rama. Jika boleh menyebut salah satu, wanita yang kini duduk di sebelahnya adalah yang paling baik di sekolah ini.
          Rama menceritakan hal yang dialaminya padaku saat ia dan Sinta datang ke rumahku selepas pulang sekolah.
          “Kenapa kamu enggak nolak, Ram?” tanya Sinta setelah Rama menyelesaikan ceritanya barusan.
          “Bingung, Sin. Pak Robi udah bilang kalo dia ‘sudah mendaftarkan’ aku. Ya mau enggak mau aku turutin aja.”
          Kami bertiga bingung. Benar. Melihat posisi Rama, sangat tidak memungkinkan ia menolak tawaran itu. Mendaftarkan Rama tanpa persetujuan yang bersangkutan terlebih dahulu adalah tanda tanya besar yang mesti dipecahkan.
          “Padahal Pak Robi pernah nawarin ikut lomba itu ke aku. Aku pikir lombanya masih lama makanya Pak Robi gak pernah ngomongin itu lagi sampai sekarang,” kata Sinta.
          “Coba kamu lihat di tumpukan kertas itu, Sin!” kutunjuk setumpukan kertas di salah satu rak bukuku. Kertas-kertas murid berupa karya tulis kukumpulkan di sana.
          “Di sana ada tugas membuat puisi kelasnya Rama. Coba kamu cari!”
           Tanpa harus mengulang kalimat perintah tadi, Sinta langsung melakukannya. Diacak-acaknya kumpulan kelas yang telah kulabeli kelas Rama.
          Rama gelisah.
          Aku tersenyum.
          Sinta cukup telaten mencari kertas itu. Tidak memerlukan waktu lama baginya untuk menemukan sebuah puisi dengan nama Rama Saputra di pojok kanan atas kertasnya.
          Rama salah tingkah. Sinta membacanya sambil tersenyum.
          Rama sangat menyanjung sosok seorang perempuan yang digambarkannya begitu sempurna: menyerupai bidadari dengan sayap terbentang. Ia terlalu berlebihan memuji bidadari itu. Manusia yang tahu siapa bidadari yang ditulis Rama dalam puisi bebas itu mungkin hanya aku.
          “Gimana, Sin?” tanyaku.
          Sinta menjawabnya dengan senyuman. Bagiku, senyuman itu terbaca: pantas saja.
          Rama makin salah tingkah.
          “Iya, puisi aku memang jelek,” kata Rama datar.
          Perkataan yang memancing tawaku dan Sinta.
          “Lumayan kok, Ram. Lumayan,” hibur Sinta.
          “Lumayan ngegombal ya, Sin?” godaku.
          Kami berdua kembali tertawa, sementara Rama menahan senyum kecutnya.

(bersambung)